Tampilkan postingan dengan label sinops. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sinops. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Februari 2012

Novel The Moon That Embraces the Sun - Bab 6



Kata 天 disebut Tian, yang jika di blue disebut dengan heaven (surga). Tapi bisa juga berarti langit. Dua kata itu dalam bahasa Cina termasuk dalam 天. CMIIW, saya akan menggunakan kata langit karena sepertinya terasa lebih pas dalam bahasa Indonesia.

[Note : Untuk mengetahui kelanjutan dari chapter selanjutnya novel Moon Sun ini, ada sedikit catatan dari saya yang saya posting di bagian comment.]


Novel The Moon That Embraces The Sun – Bab 6


Ketika Hwon minum bersama Yeom, wajahnya menegang mengingat kenangan akan hari-hari yang telah berlalu.

Tujuh tahun dan enam bulan yang lalu, Pangeran Hwon sangat bosan dengan rutinitas yang ia jalani, dan menemukan kesenangan dengan mengerjai guru-gurunya. Sampai suatu ketika salah seorang gurunya mengundurkan diri karena tak tahan dengan tekanan yang ia alami saat mengajar Hwon dan pindah ke desa. Seorang guru baru dipilih secara langsung oleh raja untuk mengajari Hwon.

Hwon sangat ingin mengetahui siapa target terbarunya dan menyuruh seorang pegawai rendahan untuk memeriksa latar belakangnya. Namun pegawai itu ragu-ragu melaporkan temuannya.
“Mengapa kau tak mengatakan sedikitupun? Apa kau tak mampu menemukan siapa yang akan datang?”

“Bukan itu, tapi..”

“Katakan! Siapa dia?”

Setelah menimbang cukup lama, pegawai itu menjelaskan, “Ia adalah seorang pemuda bernama Heo Yeom, dan baru-baru ini ia menjadi lulusan dengan nilai terbaik di ujian penerimaan pegawai negeri.”

Hwon sangat terkejut. Hal ini benar-benar sebuah kenaikan pangkat yang drastis untuk seorang yang baru lulus untuk dipromosikan ke golongan pegawai yang memiliki tanggung jawab mengajar seorang Putra Mahkota.

“Apakah kau mengetahui hal yang lainnya?”

“Ada.. usianya..”

“Usia? Berapa tahun usia pemuda, si Heo Yeom ini?”

“Tahun ini ia berusia 17 tahun.”

Hwon berteriak marah, “Jika ia berusia 17 tahun, ia hanya satu tahun lebih tua dariku!”

Kebanyakan guru Hwon berusia antara 30-an sampai 40-an. Harga diri Hwon terluka memikirkan kalau ia akan diajar oleh seseorang yang setahun lebih tua darinya. Tapi ia juga ingin tahu. Orang yang lolos ujian pegawai negeri biasanya berusia sekitar 25 tahun, bahkan kadang-kadang 40 tahun. Mampu lulus ujian pada usia 17 tahun, bahkan menjadi lulusan terbaik, membuktikan kalau si Heo Yeom ini adalah seorang yang jenius. Maka Hwon menunggu-nunggu kelas perdananya dengan Yeom, walaupun ia juga bertekad untuk menendangnya pada hari-hari pertamanya.

Hari pertama, Hwon sudah berencana untuk tak mau bangkit dari kursi dan tak mau membungkuk hormat untuk menyambut gurunya, begitulah tata krama yang seharusnya ia tunjukkan pada gurunya. Hanya saja, saat melihat wajah Yeom yang duduk di hadapannya, ia melongo melihat keindahan yang terpampang di depannya. Sangat terpana sehingga ia melupakan sejenak niatnya untuk menendang Yeom keluar. Tapi setelah akal sehat Hwon kembali, ia kembali duduk seenaknya dan topinya pun terpasang miring di kepalanya.

Tapi reaksi Yeom sama sekali berbeda dengan guru-guru lainnya. Tak peduli berapa lama Hwon menunggu, Yeom tak pernah menegurnya untuk duduk yang benar atau menyuruhnya untuk menghormati guru. Yeom malah duduk tegak dan tersenyum lembut tanpa mengatakan satu patah kata. Hwon jadi capek duduk miring, punggung dan lengannya mulai terasa linu. Tapi Hwon terlalu keras kepala dan tak mau bergerak lebih dulu. Akhirnya 45 menit telah berlalu dan bel berbunyi menandakan kalau pelajaran telah selesai. Begitu bel berbunyi, Yeom tersenyum dan beranjak pergi, dan sekali lagi, tanpa sepatah kata.

Hwon merasa geli. Semua gurunya yang terdahulu selalu cemas ketika mengajari Putra Mahkota yang seharusnya menunjukkan perilaku sopan pada guru, sehingga selalu jatuh pada perangkapnya. Tapi Yeom adalah guru pertama yang hanya duduk dan tersenyum. Dan ini terus berlanjut dari hari ke hari.

Hwon jadi bosan dan juga ingin tahu bagaimana suara Yeom. Jadi setelah beberapa hari dengan perang diam, Hwon akhirnya membungkuk hormat 3 kali pada Yeom sebagai guru dan duduk tegak di hadapannya. Tapi hal ini bukan karena Hwon benar-benar menerima Yeom sebagai gurunya. Tapi karena ia sekarang akan menyerang dengan taktik yang berbeda.

Hwon sedang mempelajari Zhongyong (Kitab Tengah Sempurna) dengan guru terdahulunya sampai Yeom menggantikannya. Maka Hwon mempersiapkan diri terlebih dahulu untuk melindas Yeom. Namun di kelas pertama mereka, sesuatu yang tak diharapkan terjadi. Bukannya mengajar Zhongyong, Yeom memberitahu kalau mereka akan mempelajari Kitab Ribuan Huruf, sebuah buku dasar untuk mengajarkan huruf-huruf China pada anak-anak dan pemula. Hwong sangat tercengang. Tapi sebelum Hwon sempat berteriak marah, Yeom telah meminta pustakawan untuk membawakan buku Kitab Ribuan Huruf.

Setelah Hwon pulih dari keterkejutannya, ia berteriak, “Beraninya kau! Aku sekarang sedang mempelajari Zhongyong dan Zizhi Tongjian (Arti secara harafiah: Cermin Komprehensif untuk Membantu Pemerintah). Tapi kau malah mengajarkan Kitab Ribuan Huruf?”

Tak seperti Hwon, Yeom berkata kalem, senyum lembutnya tak pernah hilang, “Yang Mulia, Saya tak pernah mengajar orang lain sebelumnya. Dan ketika saya diperintahkan untuk mengemban tugas ini, saya menolaknya. Tapi Baginda Raja menyuruh saya untuk mengajarkan apa yang saya pelajari.”

“Tapi kenapa harus Kitab Ribuan Huruf?”

“Buku yang dipelajari untuk pemula adalah Kitab Ribuan Huruf. Tapi sebelum mempelajari buku apapun, langkah pertama adalah sikap belajar. Yang Mulia telah berhasil menguasai sikap itu dalam beberapa hari yang lalu, dan langkah berikutnya adalah Kitab Ribuan Huruf. Saya melakukan ini karena begitulah yang diajarkan pada saya.”

Hwon sangat marah. Tapi ia tak dapat memikirkan kata-kata yang tepat untuk membalasnya. Sementara itu, pustakawan telah kembali dengan buku tersebut yang sekarang berada di atas meja.

Yeom membuka buku dan membaca, “天地玄黃.”

Tapi mulut Hwon terkunci rapat dan memandang Yeom dengan marah.

“Yang Mulia, katanya Anda telah menguasai huruf-huruf Cina ini. Kalau begitu, apakah 天?”

“Artinya langit!”

“Kalau begitu, apa artinya langit?”

Hwon tak siap menjawab. Pertanyaan Hwon sangat mendadak, sehingga Hwon sulit menjelaskan definisi langit.

“Anda mengatakan kalau sedang mempelajar Zhongyong. Jadi, apa arti langit menurut Zhongyong?”

Hwon tahu kalau ia telah mempelajarinya, tapi ia tak dapat menjawab. Yeom akhirnya berbicara.

“Dikatakan kalau langit adalah sumber kebenaran/pencerahan. Apa yang langit telah takdirkan disebut 性 (alam), dan yang bertindak seperti alam adalah 道 (prinsip), dan yang menjadikan sebuah prinsip adalah pembelajaran/pendidikan. Jadi ketika tengah/tidak menyimpang (中/Zhong) bertemu dengan keselarasan (和), langit dan bumi akan mendapat  tempat yang tepat, dengan demikian semua hal di dunia ini akan terpelihara dengan baik.”

Hwon menyadari kalau ia tak hanya belum menguasai huruf pertama ‘langit’ yang muncul di Kitab Ribuan Huruf, tapi ia juga sepenuhnya belum memahami Zhongyong . Ia membalas dengan serangan kecil.

“Jadi menurutmu apa itu langit dan bumi?”

“Pertanyaan itu bukan ditujukan pada saya, tapi untuk Yang Mulia cari melalui pelajaran yang didapat dari kitab-kitab tersebut.”

“Jadi kau tak dapat menjelaskannya?”

Yeom tersenyum saat mengangguk, “Saya juga masih membaca kitab-kitab itu sehingga saya dapat mempelajarinya. Menurut Liezi, energi yang murni dan cemerlang akan bangkit menjadi langit, sedangkan yang berat dan tak murni akan jatuh ke bumi. Keselarasan dari bumi dan langit adalah manusia. Jiwa manusia diterima oleh langit, dan tubuhnya akan masuk ke bumi."

Ini pertama kalinya Hwon mempelajari Liezi. Ia menyadari kalau ia sangat tertarik dengan ajaran Yeom.

“Begitukah? Jadi karena itu saat manusia mati, jiwanya ke surga dan tubuhnya ke bumi?”

Yeom tersenyum cerah, “Apa yang Paduka katakan juga dikatakan oleh Liezi.”

“Hmm… Aku harus mencari buku itu dan membacanya.”

Tanpa mereka sadari, 45 menit telah berlalu. Hwon telah melupakan niatnya untuk menyiksa Yeom bahkan malah menemukan keasyikan dalam pelajaran rutinnya. Hampir semua yang keluar dari mulut Yeom adalah sesuatu yang baru baginya, bahkan sesuatu yang Hwon sudah ketahui terasa baru baginya.

Adalah keinginan Hwon untuk mengalahkan Yeom, padahal banyak hal yang masih belum dikuasainya. Dengan tujuan baru yaitu untuk mengalahkan Yeom walaupun hanya sekali saja, setiap hari Hwon belajar keras. Saat ia belajar Kitab Ribuan Huruf bersama Yeom, ia juga mempelajari ajaran dari kitab lain. Dengan begitu, Hwon mulai menyukai gurunya yang belum pernah ia rasakan dengan guru-guru sebelumnya.

Waktu di kelas terasa sangat singkat bagi Hwon, jadi ketika Yeom beranjak bangun, Hwon selalu meminta Yeom untuk tinggal lebih lama untuk makan malam bersama. Tapi melihat Yeom selalu pulang lebih awal setiap malam, membuat Hwon terluka dan suatu hari bertanya, “Aku masih ingin bermain denganmu, tapi kenapa kau tak mau tinggal lebih lama?”

Yeom menjelaskan dengan minta maaf, “Walaupun itu juga merupakan tugas saya, saya yang masih muda, merasa sukar tinggal di istana lebih lama. Lagipula .. “

“Lagipula? Masih ada alasan yang lain?”

“Saya mempunyai adik perempuan. Karenanya..”

“Tapi kau masih memiliki orang tua. Tak seharusnya kau yang menjaga adikmu.”

“Bukan seperti itu, tapi saya ingin menghabiskan waktu bersamanya.”

Hwon mengernyit memikirkan kalau ia harus menghabiskan waktu bersama adiknya. Hwon berpikir kalau Yeom itu aneh, tapi wajah Yeom cerah ketika membicarakan adiknya.

“Saya menyukai kegiatan membaca dengan adik saya.”

“Membaca bersama? Adikmu membaca buku? Bersamamu?”

“Ya, Yang Mulia. Walaupun saya mengajarinya ...”

“Bukankah kau dulu bilang kalau aku adalah orang pertama yang kau ajari?”

Yeom nampak tersipu malu dan ragu-ragu menjelaskan, “Anak ini berbeda. Walaupun saya mengajarinya, tapi saya malah belajar darinya.”

“Berapa umurnya?”

“Ia 3 tahun lebih muda dari saya, dan berumur 14 tahun.”

“Artinya ia 2 tahun lebih muda dariku. Bahkan seorang jenius sepertimu belajar darinya? Apa maksudmu?”

“Biasanya, kata orang, kalau kau mengajari seseorang satu hal, ia akan memahami sepuluh. Tapi ketika aku mengajarinya satu hal, ia mengembalikan dengan sepuluh pertanyaan. Untuk menjawab pertanyaannya, saya belajar lebih banyak lagi. Dan saya menikmatinya. Adik saya adalah guru terpenting dalam hidup saya.”

Tak peduli bagaimana Hwon memikirkannya, Hwon sangat terkesima mendengar ada seorang gadis yang membaca dan belajar.

“Aku juga mempunya seorang adik. Putri Minhwa… Walaupun kau mungkin tak pernah bertemu dengannya, kau pasti pernah mendengarnya.”

“Ah! Saya pernah melihatnya. Beberapa waktu yang lalu, tepat berada di hadapan saya. Walaupun saya tak dapat melihat wajahnya.”

“Begitu, ya? Bagaimanapun juga, Putri Minhwa tiga tahun lebih muda dariku, tapi ia sangat manja dan bertingkah semaunya. Huruf yang ia ketahui hanya kalimat pertama dari Kitab Ribuan Huruf. Bagaimana mungkin  seorang gadis berusia 13 dan 14 tahun bisa amat sangat berbeda?”

Tiba-tiba, mereka mendengar suara tangis seorang gadis, dan sebelum mereka sadar, Putri Minhwa menyeruak masuk ke ruangan mereka dengan memakai pakaian pelayan.

Hwon berteriak, “Baju apa yang kau pakai? Dan beraninya kau masuk kemari!”

Bersimbah air mata, ia mendekati Hwon dan mulai memukulinya.

“Aku benci padamu, Orabeoni! Aku benci padamu!” (Orabeoni adalah panggilan Oppa/Kakak/Mas dalam bahasa Korea kuno)

“Kenapa sih kau ini?”

“Kau menjelek-jelekkan aku! Dari sekian banyak orang, kenapa kau menjelek-jelekkan aku di hadapannya? Aku benci padamu! Aku benci padamu! Aku benci padamu!”

Walaupun Hwon berteriak-teriak marah, tapi Minhwa tetap memukuli Hwon. Nyonya Min akhirnya masuk untuk menjemput majikannya, tapi dengan cepat Minhwa mendekati Yeom. Karena melanggar hukum jika Yeom melihat langsung wajah anggota kerajaan tanpa ijin, Yeom langsung menundukkan kepalanya. Tapi Minhwa meraih wajahnya dan memaksanya untuk melihat padanya.

“Tidak benar! Apa yang Yang Mulia katakan tadi semuanya tidak benar. Aku tidak manja, tapi wanita yang lembut. Aku hampir mempelajari semua ribuan huruf itu. Dan juga..”

Sebelum Minhwa sempat menyelesaikan kalimatnya, para dayang telah menyeretnya pergi.

Hwon dan Yeom duduk tercengang melihat semua yang telah terjadi. Akhirnya Hwon memecah keheningan dengan bertanya pada kasim yang bertugas. “Ada apa dengannya? Darimana ia bisa mendapatkan baju pelayan dan kenapa ia datang kemari? Benar-benar kekanak-kanakkan!”

Kasim itu hanya diam dan melihat Yeom sambil tersenyum. Karena gangguan dari Minhwa, mereka tak meneruskan pembicaraan tentang adik Yeom.

Tapi beberapa hari kemudian, pembicaraan itu muncul kembali. Sebelum kelas dimulai makanan kecil yang dipercaya dapat membantu Putra Mahkota untuk tidak ngantuk di dalam kelas selalu dipersiapkan bagi Hwon. Hari itu, yeot hitam (permen kunyah) yang diimpor dari China adalah menu makanan kecil Hwon. Hwon menyimpannya untuk kemudian dibagikan pada Yeom, tapi Yeom hanya memandanginya.

“Kenapa kau tak makan? Apakah kau tak menyukainya?”

“Bukan begitu .. Tapi saya hanya berpikir kalau adik saya pasti menyukainya.”

“Ah! Adik yang banyak bertanya? Sepertinya kau mengagumi adikmu. Apakah itu tak sedikit berlebihan?”

Yeom hanya tersenyum. Melihat senyum indah Yeom, Hwon menjadi penasaran dengan adiknya.

“Apakah ia mirip denganmu? Jika iya, ia pasti sangat cantik.”

Yeom hanya tersenyum, tapi melihat senyumnya Hwon menyadari kalau ia dapat merasakan  pesona adiknya juga. Seolah-olah pernah melihatnya, hati Hwon mulai berdebar-debar.

“Siapakah nama adikmu?”

“Apa? Maaf tapi saya tak dapat memberitahukannya, Yang Mulia. Ia bahkan belum memakai dangho.” (*sangat tak pantas untuk memanggil seorang wanita bangsawan dengan nama kecilnya, walaupun ia masih muda. Sudah aturannya untuk memanggil wanita itu dengan danghonya (nama bangsawan). Terlebih lagi, tak mungkin seorang gadis dipanggil dengan nama kecil di depan seorang putra mahkota.)

“Aku hanya menanyakan namanya, memang apa masalahnya? Karena nama keluargamu adalah Heo, nama keluarganya pasti juga Heo.  Dan namanya adalah..”

Yeom menutup mulutnya rapat-rapat dan menolak mengatakan apapun. Tapi Hwon semakin penasaran setengah mati sehingga ia mengancam Yeom.

“Hmmff! Jika aku mau, aku dapat mencari tahu nama adikmu dengan cara lain. Tapi bukankah itu akan menimbulkan masalah yang lebih besar?”

“Yeonwoo.. namanya adalah Yeonwoo.”

“Yeonwoo.. seperti hujan gerimis?”

“Ya, Yang Mulia. Ia menggunakan huruf-huruf Cina.”

“Yeonwo..”

Berulang kali Hwon mengulang nama itu di kepalanya, lagi dan lagi dan berpikir, “Nama yang cantik sekali. Aku dapat membayangkan ia pasti berwajah cantik juga. Kuharap aku dapat menemuinya walau hanya sekali.”

Ketika Yeom bersiap untuk mulai mengajar, Hwon berbisik pada kasim yang berdiri di sebelahnya. Kasim itu meninggalkan ruangan dan kembali lagi saat kelas usai dengan membawa bungkusan kecil untuk Yeom. Yeom memandang Hwon penuh tanya, dan Hwon menjelaskan, “Karena kau tak mau memakannya, aku sudah menyiapkan yeot hitam. Nikmatilah bersama adikmu.”

Saat itu, bukan hanya Hwon yang memberikan yeot, Yeom yang menerimanya pun membawanya pulang tanpa banyak pikran. Tapi kemudian, malam harinya, Hwon merasa aneh ketika menyadari kalau dirinya, Putra Mahkota kerajaan ini, telah memberikan hadiah pada seorang wanita. Terlebih lagi, mereka berdua sama-sama belum menikah. Karena penasaran setengah mati ingin tahu reaksi Yeonwoo pada hadiahnya, Hwon tak dapat memejamkan mata malam itu. Hwon menghabiskan malam dengan memikirkan seorang gadis yang wajahnya sama sekali  belum pernah ia lihat.


Komentar :

Whoaa… ternyata perasaan suka Hwon pada Yeonwoo bukan perasaan Love at the First Sight, tapi Love at the First Thought. Yang ia sukai pertama kali bukannya fisik Yeon Woo, tapi pemikiran Yeon Woo. Tepatnya deskripsi Yeon Woo dari Yeom.

Menurut Blue, dimasa kecilnya Hwon dan Yeonwoo belum pernah bertemu sama sekali. Perasaan itu dihubungkan oleh Yeom. Jika seperti itu, pertemuan pertama mereka, face to face adalah pertemuan di bab 1. Maka wajar kalau Hwon mulanya merasa asing tapi kemudian ketika mereka berbicara, Hwon merasa tertarik padanya. Karena waktu kecilpun, ia tertarik dengan kepintaran Yeonwoo bukan kecantikannya.
Walaupun sebenarnya ia mungkin tak perlu khawatir memikirkan Yeonwoo cantik atau tidak, karena gurunya, Yeom, juga tampan.

Hmm… atau sebenarnya Hwon sendiri tertarik pada Yeom, seperti di dramanya? Kalau tak salah di episode 4, Hwon juga meneriakkan perasaannya di depan Yeom kan?  “Aku.. suka..” Walaupun sebenarnya pengakuan itu untuk Yeonwoo, namun karena pengucapannya kurang lengkap (lihat di tempat Fanny untuk penjelasannya)  ungkapan suka itu yang disaksikan oleh dayang dan kasim yang menguping sehingga mereka salah mengartikan kalau Hwon menyukai Yeom. Jadi sebenarnya bukan Love at the First Thougt, tapi Love at the her brother?

Hehehe.. abaikan saja paragraf terakhir saya yang gak penting itu.


All credits go to the author of The Moon that Embraces the Sun, Jung Eun Gwol. Thanks to Blue for her English translation from Belectricground.com. Indonesian translation by Dee from Kutudrama.com               

Minggu, 29 Januari 2012

The Moon That Embraces the Sun 1


Genre: Romance, Fantasy, Period
Episodes: 20
Broadcast network: MBC
Broadcast period: 2012-Jan-04 to 2012-Mar-08
Air time: Wednesday & Thursday 21:55 (KST)

Director: Kim Do Hoon
Screenwriter: Jin Soo Wan

Main Casts
Kim Soo Hyun as Lee Hwon
- Yeo Jin Goo as Lee Hwon (young)
Han Ga In as Wol / Heo Yeon Woo
- Kim Yoo Jung as Wol / Heo Yeon Woo (young)
Jung Il Woo as Prince Yang Myung
- Lee Min Ho (1993) as Prince Yang Myung (young)
Kim Min Seo as Yoon Bo Kyung
- Kim So Hyun as Yoon Bo Kyung (young)
Song Jae Hee as Heo Yeom
- Si Wan as Heo Yeom (young)
Song Jae Rim as Kim Chae Woon
- Lee Won Gun as Kim Chae Woon (young)

Based on Novel karya Jung Eun Gwol "The Moon That Embraces the Sun/ Haereul Pumeun Dal". Diterbitkan pertama kali pada 29 Des 2005.
Novel dalam bahasa Korea.

Episode 1
Narasi : Dahulu kala, ada dua matahari di langit dan juga ada dua bulan. Kemudian, hari menjadi begitu panas, dan malam menjadi sangat dingin.
Semua ciptaan ada dalam kekacauan, dan manusia menderita. Seorang pahlawan muncul dan menggunakan panah untuk menembak satu matahari dan satu bulan. Barulah kemudian ada damai di dunia.

Ibu Suri Jeong Hui menyiapkan teh bunga untuk Yoon Dae Hyung. Dia menuangkan air panas ke tempayan porselen berisi bunga teratai, lalu mengambil sarinya dan menuangnya ke dalam cawan teh.
(Yep, Ibu Suri Jeong Hui ini istrinya Suyang/Sejo. Tapi ceritanya fiksi.)

Ibu Suri : Tidak buruk kalau seorang pahlawan muncul dari kekacauan. Benar kan, keponakan? Bahkan mereka yang terlahir dari rahim lain bisa dianggap sebagai bagian dari garis keturunan.
Yang Mulia terlalu menyukai P. Ui Seong.

Yoon Dae Hyung membenarkan, ia tahu ada satu kelompok yang muncul dengan pemimpin P. Ui Seong.
Ibu Suri : Apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa diam saja dan menunggu seorang pahlawan muncul, ya kan?

Dae Hyung : Saya ini bodoh, tidak mengerti apa maksud Ibu Suri.

Ibu Suri : Tolong jadilah pahlawan. Jadilah anak buah yang setia.
Yang Mulia punya keraguan jadi dia tidak bisa bicara langsung. Hanya ada satu matahari di langit. Dan juga hanya ada satu takhta. Keberadaan P. Ui Seong mengancam apakah Yang Mulia bisa menjaga takhta dengan baik.
Jadi, kau harus membuatnya menghilang.

Dae Hyung tertegun, tapi ia harus melaksanakan perintah Ibu Suri.
(P. Ui Seong = Adik Raja Seong Jo, satu ayah lain ibu. Catatan = Ini fiksi)

Tengah malam, beberapa sosok pembunuh terlatih dengan baju hitam2 ada di atas genting kediaman P. Ui Seong.

Beberapa orang menempelkan kertas mantra di dinding.

Ada lagi yang menguburkan sebuah buku di tanah. Tidak jelas apa maksudnya.

Seorang pembunuh memeriksa sebuah ruangan, ternyata kosong. Dia dipergoki oleh seseorang yang langsung mengarahkan pedang ke lehernya.
P. Uiseong : Siapa yang telah memerintahmu?

P. Uiseong dan pembunuh itu bertempur. Dalam pertempuran itu, P. Ui Seong terkena pisau.

Di sebuah kamar, seorang wanita terbangun dengan tiba-tiba. Temannya terkejut, ada apa? Ada apa?
Wanita itu mengambil seragamnya. Rekannya bingung, ini sudah malam sekali. Kau mau kemana?

Wanita itu, A Ri : Apa kau tidak bisa merasakannya? Ini jelas roh pembunuhan.
Jang Nok Young : Meskipun kau pergi, tidak ada yang bisa kau lakukan.

A Ri berkeras ingin pergi dan melihatnya. Orang itu dalam bahaya. Ia keluar dan lari.
Nok Young mengejarnya, A ri! A ri!

A Ri terus berlari di kegelapan malam. Nok Young tiba-tiba terhenti, ia melihat bulan yang diselimuti awan hitam dan merasa ketakutan. Nok Young tidak jadi mengejar A ri dan kembali pulang.

P. Uiseong bertempur mati-matian dengan para pembunuh. Ia sebenarnya ahli pedang yang hebat, tapi kalah jumlah. Ia terjatuh.
Dae Hyung muncul : Hentikan! Lama tidak bertemu, Ui Seong Dae Gun.

P. Uiseong : Awalnya, kau ingin menggunakanku sebagai pemimpin untuk mendapatkan kekuasaan. Sekarang sepertinya kau mengubah pikiranmu. Atau kau sudah menemukan orang lain sebagai pemimpin?

Dae Hyung membenarkan, ia akan mengakui Raja sebagai pemimpinnya. Aku akan menjadi anak buah Yang Mulia

P. Uiseong marah, Yang Mulia tidak akan tertipu oleh orang licik sepertimu! Aku ingin melihat siapa yang akan dipercaya Yang Mulia.

Dae Hyung : Tapi sungguh sayang, Dae Gun, anda tidak akan punya kesempatan menemui Yang Mulia lagi. Jadi, apa saya cabut saja nyawa Anda?
Teman dekat anda, Dae Seong telah pergi mendahului anda.

Dae Seong sedang membaca buku. Tiba-tiba ia dijerat dari atas, sehingga terlihat seperti bunuh diri. Seseorang meletakkan surat bunuh diri di meja.

P. Uiseong marah, kenapa kau tidak melepaskan Dae Seong?
Dae Hyung : Semua nasihatnya ditujukan pada keluarga Ibu Suri, jadi pantas kalau Ibu Suri bereaksi. Malam ini juga tidak buruk. Kau akan ditemani sinar bulan, jadi perjalanan ke akhirat tidak akan berat.

P. Uiseong murka, ia bangkit melawan, Dae Hyung menangkisnya dan menebas tenggorokan P. Uiseong. P. Uiseong tewas seketika.

A Ri menyaksikan ini. Ia ketakutan dan menahan teriakan-nya.

Yoon Dae Hyung menyadari kehadiran A Ri. A Ri langsung melarikan diri. Dae Hyung teriak, cepat kejar dia!

A ri melarikan diri di tengah hutan. Beberapa pembunuh mengejarnya. Sampai akhirnya ia terdesak di dekat jurang. A Ri berhenti tapi sayang ia tergelincir dan jatuh ke jurang.

Seorang pembunuh turun ke dasar jurang untuk mencarinya, ia justru menemukan ikat kepala A ri. Ini Seongsucheong (Peramal Istana). Pembunuh itu ingin A Ri ditemukan, jika ia hidup bunuh dia. Jika mati, aku ingin melihat mayatnya!

Kepala Peramal Istana mengadakan inspeksi dan menghitung jumlah anak buahnya. Ia menyadari kalau A Ri menghilang.

Kepala Peramal mendekati Nok Young, dimana A Ri?

Nok Young merasa resah dan tampak ketakutan, itu..

Ibu Suri Jeong Hui terkejut mendengar A Ri menjadi saksi pembunuhan P. Uiseong. A Ri? Ia memiliki kekuatan luar biasa. Bersama dengan Nok young, dia adalah calon Ketua Peramal Istana.
Dae Hyung yakin A Ri tidak akan bisa pergi jauh.

Ibu Suri : Kisah cinta antara keluarga Raja dan peramal. Sepertinya langit membantu kita.
Dae Hyung tidak mengerti. Ibu Suri sadar kalau dulu A Ri adalah budak di kediaman P. Uiseong dan ada hubungan asmara diantara mereka.

Ibu Suri ingin membuat ini seolah-olah Ari bersedia berkorban demi orang yang dicintainya, itulah yang disebut cinta seorang wanita.

Gadis itu telah melihat semuanya, tidak mustahil baginya untuk mengambil resiko dan lari ke istana. Jika kita bisa menjebak gadis itu..jika gadis itu berharap agar orang yang dicintainya menjadi pemilik takhta...dan demi memenuhi impiannya, ia menggunakan mantra.

Yoon Dae Hyung ragu karena mereka tidak punya bukti kalau gadis itu menggunakan mantra.
Ibu Suri berkata kalau Kepala Seongsujeong adalah orangnya, semua bisa diatur.

Pengawal istana masuk ke kediaman P. Uiseong, mereka menemukan P. Uiseong dan anak buahnya Dae Seong telah meninggal. Dan ada surat bunuh diri itu.

Raja Seong Ju membaca surat itu, ia tampak ragu, apa isi surat ini benar semuanya?

Kepala Pengawal Istana dan Dae Hyung membenarkan kalau sepertinya ada pembelot diantara para pemberontak. Dae Seong Hong Man Ho menyadari kesalahannya sebelum ia meninggal. Dia menulis surat bunuh diri sebelum meninggal untuk mengakui kesalahannya.

Kepala Peramal Istana menghadap Raja. Seong Ju menunjukkan jimat yang ditemukan di kediaman. P. Uiseong : Jimat ini, apa artinya?

Wanita itu bertukar pandang dengan Yoon Dae Hyung, lalu berkata kalau jimat itu akan meningkatkan kekuatan matahari.

Seong Ju : Benarkah?
Kepala Peramal : Di depan Yang Mulia saya tidak berani berkata bohong. Jimat itu benar2 meningkatkan kekuatan matahari.

Raja ingin tahu siapa yang memiliki jimat ini. Kepala Peramal itu berkata kalau A Ri, salah seorang Peramal yang memilikinya.
Raja Seong Ju : Peramal A Ri, dimana dia sekarang?
Kepala Peramal : Karena tahu kalau ia akan ditangkap, sekarang ia melarikan diri.

Raja memerintahkan untuk segera menemukan A Ri.

Paginya, ada iringan tandu yang jalan melewati hutan. Tiba2 seorang wanita berlumuran darah jatuh tersungkur di depan iringan tandu. Dia adalah peramal A Ri.
Pelayan wanita teriak ketakutan dan iringan tandu berhenti. Nyonya bangsawan yang di dalam tandu heran, ada apa? kenapa kau teriak?

Pelayan-nya menunjuk wanita yang berlumuran darah itu dengan gemetaran. Nyonya itu tidak takut, justru minta diturunkan dari tandu. Nyonya itu sedang hamil tua.

Nyonya bangsawan itu memeriksa A Ri. Pelayannya cemas, ia takut terjadi sesuatu dengan kandungan majikannya dan minta Ny. itu kembali ke tandu.

Nyonya itu marah, ada orang yang sekarat, bagaimana kau bisa menyuruhku tutup mata?
A Ri setengah sadar, ia bergumam : Tuan..Tuan..bangun..cepat lari..Tuan..Cepat lari..

Nyonya itu menghela nafas, kita tidak bisa meninggalkannya seperti ini, cepat bawa ia ke dalam tandu.

Iringan tandu berjalan kembali, sampai ke depan kotaraja. Para petugas sudah menyebar gambar wajah A Ri dan mereka mulai mencarinya.
Tandu itu juga dihentikan. Pelayan ingin tahu ada apa. Petugas menunjukkan gambar, kami mencari pemberontak yang melarikan diri. Pelayan itu kaget saat melihat gambar wajah A Ri. Tapi ia diam saja.

Petugas ingin memeriksa tandu, pelayan itu mencegahnya. Tapi Nyonya bangsawan itu dengan tenang membukanya, ada apa?
Petugas berkata mereka sedang mencari pemberontak, jadi ingin memeriksa tandu.

Nyonya bangsawan itu menolak, ia baru saja kembali dari kuil setelah berdoa untuk anaknya yang belum lahir. Tidak nyaman untuk berjalan, jika kau mencurigai sesuatu, ikuti saja aku sampai ke rumah. Bagaimana? Kau mau ikut bersamaku?
Petugas itu membungkuk, maafkan kelancangan saya.

A Ri disembunyikan di bawah chima/rok Nyonya itu.

Tandu berjalan lagi. Petugas melihat ceceran darah di tanah, ia curiga karena darah itu berasal dari dalam tandu. Petugas itu menghentikan tandu lagi. Ia minta Nyonya itu keluar.

Pelayan wanita itu sadar ada darah, ia pura2 panik, aigoo! darah..darah..Tidak boleh seperti ini, tabib sudah mengatakan kalau Nyonya harus sangat berhati-hati.

Nyonya itu juga cepat tanggap dan pura2 kesakitan. Pelayan mendesak petugas untuk mengijinkan mereka lewat. Ia mengancam jika terjadi sesuatu pada nyonya dan bayinya maka akan timbul masalah besar, ini anak pejabat kerajaan, jika terjadi sesuatu apa kau mau bertanggung jawab?

Petugas itu kebingungan, ia langsung mengijinkan mereka lewat dan teriak agar diberi jalan. Haha..pintar..

Di tempat sepi, Nyonya itu menurunkan A Ri, cepat pergilah.
A Ri : Nyonya, tolong tunggu sebentar. Saya benar2 tidak tahu bagaimana membalas kebaikan anda, untuk pelayan seperti saya yang sudah mengotori baju indah anda, sampai membuat anda harus pura2 kesakitan karena melahirkan.

(Astaga ..ini dayang Han- Dae Jang Geum)

Nyonya itu berkata ia tidak pura2, tadi itu memang ia kesakitan. Bukan aku yang membantumu, tapi anak ini yang sudah menyelamatkanmu.

A Ri tersenyum, anak ini benar2 gadis yang secantik bulan. Nyonya itu terkejut dan senang, apa benar anak ini anak perempuan? (Dulu blom ada USG yah..hehe)
Nyonya itu tahu A Ri seorang peramal, ia ingin mengetahui tentang anaknya.

Ari berkata kalau anak ini ditakdirkan menduduki posisi tinggi. A Ri melihat seorang gadis cantik, Heo Yeon Woo dan pertemuannya dengan Putra Mahkota serta Yang Myung-gun. Ada pesta topeng, lalu penobatan Yeon woo. Tapi A Ri juga melihat Yeon Woo kesakitan dan ada kematian.

A Ri tersentak. Nyonya itu tanya ada apa. A Ri berkata ia hanya merasa pusing.
Nyonya Heo : Apa kau benar2 tidak apa-apa sendirian?

A Ri : Saya tidak apa-apa, jangan khawatir Nyonya. Semua kebaikan anda hari ini, akan saya ukir selamanya dalam hati. Meskipun saya bukan peramal, saya punya penglihatan tentang orang. Saya tahu anda bukan orang jahat.

Nyonya Heo tersenyum dan kembali ke tandu. Saat tandu bergerak, A Ri tiba2 lari menyusulnya, Nyonya! Meskipun saya mati, saya akan melindungi putri anda.
Nyonya Heo mengangguk sambil tersenyum.

A Ri terpincang-pincang berusaha kembali pulang , penduduk ketakutan melihatnya. Tiba-tiba A Ri disergap anak buah Yoon dan diseret ke pengadilan.

Semua anggota Peramal Istana berkumpul dan diharuskan melihat saat A Ri disiksa.

Jang Nok Young ada di sana, ia ngeri melihat keadaan A Ri.
Jang Nok Young tidak tahan, ia melihat ke arah Ketua Peramal dengan pandangan memohon. Tapi Ketua memalingkan wajahnya.

Yoon Dae Hyung menunjukkan jimat itu : Siapa orang yang sudah memerintahmu?
A Ri : Jimat itu...saya tidak tahu.
Yoon : Masih belum terlambat. Selama kau jujur, aku akan membiarkan badanmu tetap utuh.

A Ri tetap menyangkalnya, ia tidak pernah menulis jimat, tidak ada orang yang memerintahnya.
Yoon berkata ia punya bukti, apa A Ri masih mau menyangkalinya.

A Ri mengumpulkan kekuatan dan membantah : Apa anda berkata pemberontak? bukti apa yang anda miliki? Jika anda yang menciptakan kejahatan palsu bukan pemberontak, lalu siapa yang bisa menjadi pemberontak?

Yoon terkejut, ia membentak A Ri. A Ri tidak takut lagi, Anda pikir saya satu2nya yang melihat anda, ya kan?

A Ri : Anda pikir semuanya akan berakhir saat anda berhasil melenyapkan saya, ya kan?
Anda benar2 salah. Bulan di langit melihat anda. Darah orang itu bukan satu-satunya yang membasahi pedangmu malam itu. Ada juga sinar bulan dari malam itu.
Tunggu saja! Satu hari, semua kejahatanmu akan diungkapkan dibawah sinar bulan.

A Ri teriak, satu hari sinar bulan itu akan menghentikan hidupmu yang menyedihkan!

Yoon Dae Hyung ketakutan, tapi ia teriak murka : Apa yang kalian lakukan? Cepat hukum dia!
Algojo menekan lutut A Ri lagi dan A ri teriak kesakitan.

Malamnya, Nok Young menyelinap ke penjara dan menyuap penjaga. Penjaga itu mengijinkan Nok Young menemui A Ri, tapi hanya sebentar.
Nok Young mencari sel A Ri dan memanggilnya, A Ri! A Ri!

A Ri berusaha mendekat ke arah Nok Young. Nok Young menangis, kenapa A Ri tidak peduli. Aku sudah bilang kalau tidak ada yang bisa kau lakukan meskipun kau pergi.
A Ri : Aku tidak pernah berharap ia bisa mencapai posisi terhormat itu. Orang itu juga sama. (Maksudnya P. Uiseong tidak pernah menginginkan takhta Raja)
Nok Young tahu itu. Ia tahu pikiran orang.

A Ri senang karena Nok Young mengetahuinya. Nok Young menyesal, apa pentingnya mengetahuinya, ia tidak bisa melakukan apa saja. Juga tidak bisa menyelamatkan temannya yang sudah difitnah. Nok Young menangis.

A Ri berkata itu sudah kehendak langit. Nok Young menangis apa gunanya mereka memiliki kemampuan ini, apa artinya punya kekuatan?
Nok Young mengajak A Ri pergi dan mengatakan semuanya pada Yang Mulia. Kita berdua..

A Ri menggenggam tangan Nok Young, ada anak yang harus kau lindungi untukku. Meskipun berada di dekat matahari akan menarik bencana, takdir akan memaksanya berada di dekat matahari dan melindunginya (Raja). Pastikan anak itu selamat, lindungi dia demi diriku.

Nok Young bingung, anak itu...apa yang kau katakan? Penjaga sudah resah dan mendekati Nok Young, ayo cepat keluar.
Nok Young masih menggenggam tangan A Ri, siapa sebenarnya anak yang harus kulindungi?
A Ri : Hidupku tidak akan lama, kau harus bertahan. Lindungi Seongsucheong.

Penjaga menarik Nok Young, cepat pergi. Nok Young teriak2 Ari! Ari!
A Ri hanya menangis setelah Nok Young pergi.

Keesokannya, A Ri siap dieksekusi. Ia dibaringkan di tanah, kedua lengan dan kakinya diikat tali yang juga diikatkan ke empat ekor sapi.

A Ri melihat ke langit dan mendapat penglihatan lagi, kali ini ia melihat matahari membelah menjadi dua.

Lalu sekali lagi A ri melihat dua pangeran bersama Yeon Woo. Dua matahari dan satu bulan?

Kalian bertiga...jaga diri kalian.

Sapi mulai berjalan dan tubuh A Ri tertarik ke empat penjuru. Layar menjadi kabur dan terdengar tangisan bayi.

Ny. Heo melahirkan bayi perempuan yang cantik. Sesuai dengan ramalam A ri. Ia memandang bayinya dengan penuh kasih sayang. Dia benar2 secantik bulan.
Ny. Heo tanya ke putranya, Yeom, apa menurutmu adikmu cantik?

Yeom juga tampan dan lucu, ia mengangguk, ya dia cantik sekali.

Ny. Heo : Nak, namamu adalah Yeon Woo. Heo Yeon Woo. Ini adalah nama yang sudah disiapkan ayahmu untukmu, sebelum ia dikirim ke Myeong Guk sebagai utusan. Apa kau menyukainya?
Bayi itu tersenyum. Ny. Heo dan Yeom juga tersenyum.

Young Nok merapikan kuburan A Ri, ia mengingat pesan A Ri untuk melindungi anak demi dirinya. Ia melihat ke langit dan memandang bulan.

Beberapa tahun kemudian..

Istana sibuk. Dayang dan pelayan membersihkan aula, meletakkan tikar-tikar sesuai tingkatan. Sepertinya akan ada ujian sarjana.

Dayang dapur istana juga sibuk menyiapkan semua hidangan. Benar-benar pesta besar.

Tapi ada sedikit insiden, para dayang bingung karena kehilangan sebuah payung merah dan kotak, lalu beberapa buah yang ada di meja juga lenyap. Bahkan ada baju yang hilang juga.

Kasim Hyung Sun berdiri di depan kamar Putra Mahkota : Yang Mulia Putra Mahkota, sudah waktunya. Kita sudah banyak mengulur waktu. Tolong segera berpakaian..

Karena tidak ada jawaban, Kasim masuk dan syok. Putra Mahkota menghilang. Ia langsung lari keluar. Haha..
(Kasim ini Kim Wan Tae kan? Pasti lucu)

Semua benda2 yang menghilang itu ada di sebuah gudang. Putra Mahkota Hwon membuka jubah resminya dan ganti baju bangsawan biasa. Ia melihat peta dan memutuskan kemana ia akan lari. Ia tampak puas dan jalan pergi.
(Hwon ini wajahnya lucu sekali.)

Dua buah tandu berhenti di depan istana Gyeongbuk. Lady Jeong Gyeong, Klan Sin keluar dari tandu, ia memanggil putrinya, Yeon Woo..Yeon Woo. Kenapa kau belum keluar?

Ny. Heo membuka jendela tandu, putrinya masih asyik membaca. Apa kau benar2 tidak pusing?
Cepat, kalau tidak kau tidak bisa melihat kakakmu.

Yeon Woo keluar dari tandu dibantu oleh Seol pelayannya, dia memang gadis yang cantik dan bersinar. Yeon Woo memandang istana dengan terpesona.

Di dalam, para sarjana muda duduk sesuai barisannya. Ny. Heo dan Yeon Woo bergegas masuk, keduanya terlambat, untung Raja belum datang.
Ny. Heo dan Yeon Woo tersenyum pada Heo Yeom. Yeom tersenyum pada ibu dan adiknya.

Yeom juga menoleh ke baris di seberang dan tersenyum pada Woon, temannya.

Ny. Heo menjelaskan ke Yeon Woo, Itu Woon (Kim Chae Woon), meskipun dia tidak sebaik putraku, Woon benar2 orang yang berbakat.
Yeon Woo : Apa itu Woon..

Ibunya membenarkan, itu Woon, kau belum pernah melihatnya. Anak di sebelah sana itu Woon. Ny. Heo berkata kalau bersama P. Yang Myung, mereka bertiga belajar pada ayahmu.

Kau tahu, mereka berdua adalah teman dekat kakakmu, ya kan? Sarjana paling bagus dalam sastra dan militer semua adalah murid ayahmu. Ny. Heo tampak bangga sekali. Aku harus menyajikan makanan untuk mereka.
Tuan Heo Yeong Jae, adalah Kepala Sarjana dari Kantor Penasehat Istana.

Kasim Hyung Sun mengumpulkan penjaga dan meminta mareka mencari Putra Mahkota. Dia masih disini sejam yang lalu, jadi dia pasti masih ada di istana.
Hyung Sun pusing, jika Baginda tahu, kita semua akan dihukum berat. Cepat cari dia! Cepat!

Raja Seong Ju memasuki aula. Semua berlutut menghormat. Yeon Woo bersama ibunya juga berlutut.

Seekor kupu2 kuning tiba2 melayang turun dari langit mendekati Yeon Woo. Apa ini roh A Ri? Yeon Woo seperti terhipnotis dan mengikuti kupu-kupu itu.

Putra Mahkota jalan keluar dan merasakan panas matahari, aku tidak bisa membiarkan kulitku terbakar.
PM Hwon membuka payung dan tersenyum lebar. Ia jalan pergi sambil membawa payung merah.

Para sarjana menerima penghargaan. Lulusan terbaik sarjana sastra, Heo Yeom dan lulusan terbaik sarjana militer Kim Chae Woon, majulah.
Posisi kedua, Kim Se Min dan posisi ketiga Yim Byeong Uk, maju kedepan.

Ny. Heo tampak bangga. Ia bicara pada Yeon Woo, lihat ayahmu dia terlihat bahagia. Apa kau lihat bibir ayahmu yang turun? Itu adalah cara ayahmu menahan ketawa karena senang.
Ny. Heo heran kenapa Yeon Woo tidak menjawab, ia menoleh dan terkejut. Yeon Woo menghilang.

Yeon Woo jalan mengikuti kupu-kupu yang terbang tepat ke arah dimana Putra Mahkota berada.

Yeon Woo tidak melihat Putra Mahkota yang berusaha lari melompati dinding dengan menggunakan tangga hahaha...
PM Hwon tertegun melihat Yeon Woo dan sepertinya langsung menyukainya.

Akhirnya Yeon Woo melihat PM Hwon dan terkejut.

PM Hwon kehilangan keseimbangan dan jatuh menimpa Yeon Woo.

Payung merah itu jatuh melayang menutupi keduanya. Yeon Woo dan PM Hwon tertegun lalu sadar dan cepat2 berdiri. Keduanya kikuk.

PM Hwon : Melihat baju yang kau kenakan, sepertinya kau bukan pelayan istana. Kenapa kau di istana?

Yeon Woo : Lalu, mengapa kau memanjat tembok?

PM Hwon tidak percaya, Oh! Hanya aku yang bisa mengajukan pertanyaan. Cepat jawab aku!
Apa kau benar2 tidak tahu kalau melanggar aturan istana adalah kejahatan besar?

Yeon Woo membela diri, aku kesini untuk mengikuti upacara kakakku sebagai sarjana sastra terbaik.
PM Hwon tidak percaya.

Yeon Woo : Percaya atau tidak terserah padamu, tapi aku tidak bisa melihat orang yang mencuri dari istana. Aku akan memanggil penjaga istana sekarang.
PM Hwon : Memanggil penjaga istana? dan bilang kalau aku mencuri dari istana?

PM Hwon melihat tasnya yang penuh barang dan kenyataan ia akan lari dengan melompat tembok, memang mencurigakan.

PM Hwon berkata ia hanya cari jalan keluar.
PM Hwon : Aku juga datang melihat hyungnimku menjadi sarjana terbaik. Bukan..aku melihat kakak mendapatkan gelar sarjana militer terbaik.

Yeon Woo tidak percaya dan teriak memanggil penjaga. PM Hwon panik dan langsung membungkam mulut Yeon Woo.

PM Hwon langsung menarik Yeon Woo lari haha..

Keduanya sempat sembunyi di bawah jembatan istana karena pengawal istana lewat. Anehnya Yeon Woo tidak teriak memanggil mereka haha..

PM Hwon dan Yeon Woo sampai di sebuah paviliun. Ia menyalahkan Yeon Woo, kalau bukan karena kau, aku tidak akan selelah ini.
Yeon Woo kesal, kenapa kau tidak menggunakan bahasa resmi padaku?

PM Hwon : Kau lebih muda dariku, tentu saja aku tidak memakai bahasa resmi.
Yeon Woo : Bagaimana kau tahu kalau aku lebih muda darimu? Tuan Muda, berapa usiamu?
PM Hwon : Dikurangi dua tahun dari usiamu.

Yeon Woo : 11 th?
PM Hwon : Oh jadi kau 13 th? Berarti aku 2 th lebih tua. Aku 15 th.
Yeon Woo jalan pergi, PM Hwon menahannya, kau mau kemana?
Yeon Woo akan memanggil penjaga istana.

PM Hwon berkata kalau ia bukan pencuri, aku disini untuk melihat kakakku menjadi sarjana militer terbaik.

Yeon Woo : Kenapa kau menyalahkan yang lain saat mulutmu terbuka dan mengatakan kebohongan saat mulutmu tertutup? Sarjana militer terbaik adalah teman dekat orabeoniku, dan aku tidak pernah dengar ia punya adik sebelumnya.

PM Hwon bingung mencari alasan..benar..benarkah? Dia kelimpungan karena Yeon woo ini pintar sekali.

PM Hwon duduk : Sebenarnya aku ingin menemui kakakku.
Yeon Woo : Apa ini ada hubungannya dengan sarjana militer lagi?
PM Hwon : Bukan, bukan. Kakakku dan aku memiliki ayah yang sama, tapi ibu kami berbeda, tapi ia tetap baik padaku.

Flashback, Ratu dan Lady Park duduk bersama melihat PM Hwon dan P Yang Myung bermain.
Lalu saat keduanya semakin besar, mereka berlatih pedang dan Yang Myung mengalahkan Hwon, tapi langsung menunduk saat Raja melihatnya. Raja tidak suka kalau Yang Myung lebih menonjol.

Meskipun ia pintar sastra dan militer, dia tidak bisa ikut ujian negara. Meskipun ia berbakat, dia tidak bisa menjadi pejabat. Meskipun ia menghormati dan mencintai Ayah, dia tidak bisa menerima kasih sayang Ayah.
Meskipun ia disayangi banyak orang, ia tidak bisa muncul di depan mereka. Dan juga, kakak hidup seperti ini karena aku.

PM Hwon : Dia mungkin takut kena marah ayah, jadi kakak tidak datang menemuiku untuk beberapa lama.
Jadi, aku benar2 ingin pergi menemui Kakak. Apa kau mengerti sekarang?

Yeon Woo : Kenapa kau menyalahkan dirimu sendiri?
PM Hwon : Apa?

Yeon Woo : Tuan Muda, kau menjadi anak pertama, sementara kakakmu adalah anak tidak resmi, itu bukan hal yang bisa kau pilih. Lalu, mengapa kau menyalahkan diri sendiri?

PM Hwon : Bukankah kau baru saja bilang kalau aku menyalahkan orang lain kapanpun aku membuka mulutku?

Yeon Woo : Seorang terhormat tidak boleh menyalahkan orang lain untuk semua kesalahan. Petani tidak boleh menyalahkan tanah kalau tidak subur dan pemusik tidak boleh menyalahkan alat musik. Masalahnya ada pada pemilik dan tidak tergantung pada obyeknya.
Jika hyungnim-mu benar2 menyayangimu, mungkin ia tidak akan menyalahkanmu. Jadi, Tuan Muda, tidak ada gunanya menyalahkan diri sendiri. Kau juga tidak perlu menyalahkan orang lain.

Yeon Woo mulai mengeluarkan semua pendapatnya, ia bicara masalah politik dan sistem negara. Membuat Hwon melongo haha..

Yeon Woo : Sebenarnya, sistem yang membedakan anak sah dan tidak sah seharusnya diselesaikan oleh Yang Mulia. Jika sistem menghalangi bakat seseorang, dan bahkan memisahkan persahabatan antar-saudara, maka bukankah seharusnya diperbaiki?

Sejujurnya, ada banyak hal dalam Hukum Joseon yang tidak masuk akal. Bangsawan dan budak adalah sama-sama manusia, jadi mengapa bangsawan dan kaum rendahan dipisahkan? Ayahku selalu berkata kalau itu melanggar hukum jika wanita membaca terlalu banyak buku...

Yeon Woo sadar sudah terlalu banyak bicara, ia menutup mulutnya sendiri.

PM Hwon : Jadi maksudmu, sistem politik Yang Mulia salah, iya kan?
Yeon Woo : Bukan, bukan itu.

PM Hwon : Kali ini giliranku memanggil penjaga istana.
Yeon Woo panik dan memohon, ia menahan lengan PM Hwon. Katakan saja..pura-pura tidak mendengar apa yang kukatakan tadi.

PM Hwon : Sekarang kau tahu aku bukan pencuri, ya kan?

Yeon Woo menggeleng, tidak. PM Hwon kaget, kenapa begitu?

Yeon Woo : Barang2 tadi itu dari mana asalnya?
PM Hwon berkata itu miliknya. Semua milikku. Puas?
Yeon Woo : Semua adalah barang langka yang hanya diberikan sebagai upeti. Tuan Muda, bagaimana kau bisa dapat barang2 itu?

PM Hwon : Aku akan berkata kalau kau manis, apa kau terus akan mencurigaiku? Apa kau mengabaikanku? Aku ini...Joseon..aku ini ..pejabat Joseon.

Ny. Heo panik dan lapor ke penjaga kalau putrinya menghilang. Ia sudah pergi selama lebih dari dua jam. Dia tidak pergi ke arah tandu, jadi dia pasti masih ada di dalam istana. Kau harus membantuku menemukannya.
Kau harus membantuku...
Ny. Heo melihat Yeon Woo jalan bersama PM Hwon dari seberang, ia langsung lari, Yeon Woo..

Yeon Woo masih ingin tahu, katakan berapa gaji pejabat sampai kau mampu mendapatkan barang2 berharga itu?

Ny. Heo memanggilnya, Yeon Woo! ia lega melihat Yeon Woo baik2 saja, aigo..anakku.

Penjaga langsung mendekati PM Hwon. PM Hwon mencegahnya menghormat atau memanggilnya Yang Mulia. Jangan katakan apapun, tidak sepatah katapun. Jika kau mengatakan sesuatu, aku akan menghukummu.

PM Hwon berseru ke Yeon Woo : Kau disana! Aku sudah mengakui kesalahanku pada penjaga dan lapor sendiri. Apa kau puas sekarang? Semua barang yang kucuri ada di Ruangan Bulan Perak, kuantar kau kesana. Hwon pergi dengan penjaga itu. Ny. Heo tampak heran, tapi tidak mengatakan apapun.

Yeon Woo sudah masuk tandu dan siap pulang. Seorang dayang istana lari2 menahannya, Agassi, tunggu sebentar.
Dayang itu mengulurkan surat yang ditulis diatas kain, seseorang meminta saya memberikan ini pada anda.

Yeon Woo : Siapa?
Dayang : Dia berkata kalau anda akan tahu jika saya mengatakan ini dari Tuan Muda Gedung Bulan Perak.

Yeon Woo : Tuan muda pejabat itu? Apa ini?

Flashback, PM Hwon menulis diatas kain, ia bicara sendiri, meskipun banyak yang ingin kukatakan, tapi aku tidak bisa mengatakannya. Tapi semakin kupikir aku semakin kesal, jadi aku hanya mengatakan ini padanya. Jika ia gadis pintar, ia akan mengerti apa artinya.

Yeon Woo tanya lagi, apa ia tidak mengatakan sesuatu?

Dayang : Katakan padanya untuk hati-hati di jalan saat malam hari. Hanya itu katanya.

Yeon Woo : Mengatakan padaku untuk hati-hati di jalan saat malam, dia mungkin bukan orang jahat.
Yeon Woo tersenyum lalu mereka pulang.

PM Hwon mengenakan kembali jubah resminya dan menghadap Raja. Ayahnya ingin tahu apa yang membuatnya tertarik diluar istana.

PM Hwon mengaku hanya ingin menemui Kakaknya, P. Yang Myung untuk berdiskusi.

Seong Ju : Tempat dimana kau ingin berdiskusi adalah dengan para guru dibelakangmu itu.
PM Hwon : Saya minta maaf. Saya tidak bisa belajar apa-apa lagi dari Sigangwon. (Pendidikan Istana khusus untuk Putra Mahkota)

Raja terkejut, tapi PM Hwon tidak punya teman debat, tanpa debat bagaimana batasan bisa dilanggar? Tanpa pertanyaan yang membuat saya ragu, bagaimana saya bisa menantang langit? Hal2 yang mustahil di Sigangwon, saya bisa mempelajarinya bersama kakak.

Raja marah dan menyalahkan para pejabat dan guru, bagaimana kalian bisa membuat PM seperti ini? Raja memecat semua guru dan mencari guru baru untuk PM.
Raja memerintah agar PM belajar di kamarnya dan keluar setiap malam untuk merenung. Juga, dia tidak bisa pergi ke makam istana.

Menteri Personel, Yoon Dae Hyung menghadap Ibu Suri. Yoon mengagumi pohon bonsai Ibu Suri. Bonsai ini kelihatan mengesankan, sama seperti pohon pinus di gunung.
Ibu Suri : Apa kau tahu arti dibalik pohon bonsai, Menteri Personel?
Yoon : Bukankah artinya menumbuhkan bibit kecil sesuai keinginan anda?

Ibu suri : Benar, tapi masalahnya dengan pohon bonsai, pohon ini mudah dilihat tapi sebenarnya sulit melakukannya. Jika waktunya tidak pas, maka sulit membuatnya sesuai dengan keinginanmu.

Ibu Suri juga mendengar kekacauan di Sigangwon. Ia mengingatkan Yoon Dae Hyung kalau siapapun yang menjadi guru PM akan menjadi sangat penting, karena ia akan mendidik calon Raja Joseon berikutnya.

Ratu/Jung Jeong dari klan Han menghadap Raja, ia minta Raja mengerti perasaan PM. PM tidak punya teman. Saya mohon ijinkan P. Yang Myung untuk masuk dan keluar istana dengan bebas.

Ratu Han : P. Yang Myung bahkan belum menikah dan anda sudah mengirimnya keluar dari istana. Jika anda tidak mengijinkannya kembali ke istana, maka Putra Mahkota akan menjadi semakin..

Seong Jo marah, itu bukan posisi yang bisa ia permainkan dengan mengikuti perasaan. Semua Raja terdahulu harus mengalami penderitaan yang sama untuk menjadi Raja. Untuk orang yang akan bertanggung jawab pada rakyat, jika ia tidak bisa menahan keinginan-nya sendiri, apa dia pantas?

Ratu Han masih ingin berdebat. Tapi Raja memintanya pergi. Aku ingin istirahat, Jung Jeong kau kembalilah.

Ratu Han bertemu Hui Bin, klan Park. Park Hui-bin memberi hormat, saya sangat menyesal.
Ratu Han tersenyum dan berkata ini bukan salah Hui Bin. Ia heran kenapa P. Yang Myung tidak berkunjung ke istana akhir2 ini.

Park Hui Bin : Saya dengar ia pergi keluar ibukota untuk jalan2.

Ratu Han mengerti, Raja pasti telah melarang P. Yang Myung masuk istana. Kalau ia kembali, jika ia punya waktu katakan padanya untuk pergi ke istana Ratu dan memberikan hormat. Akan lebih baik kalau ia bisa mampir ke Istana Timur (Istana Putra Mahkota).
Park Hui Bin tersenyum dan memberi hormat.

P. Yang Myung habis berburu, ia menjualnya ke pedagang dan minta harga yang tinggi, aku akan memakainya membeli hadiah untuk temanku.
Pedagang itu heran, kau orang baru ya?

Yang Myung berkata ia hanya pelancong yang lewat saja. Karena aku kekurangan biaya untuk jalan, jadi aku menangkap ini. Pedagang itu memeriksa hasil buruan Yang Myung.
Yang Myung melihat antrian orang dan tanya mengapa mereka antri seperti itu.

Pedagang itu menjelaskan ada anak buta usia 8 th yang punya kekuatan supranatural. Anak itu bisa tahu penyakitmu tanpa memeriksa nadimu dan mereka juga menjual batu ajaib yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit.

Yang Myung tertarik, aku juga bingung mau beli apa. Mungkin aku sebaiknya membeli batu itu juga.
Beberapa pria promosi dan berkata kalau ini melebihi kemampuan Peramal Seongsucheong Jang Nok Young, ayo dapatkan batu ajaib yang bisa menyembuhkan penyakit apapun. Hanya tersedia 50 buah saja!

Guk Mu Jang Nok Yeong
Seorang anggota Seongsucheong menunjuk gadis itu, itu orangnya, Peramal. Mereka adalah penjahat yang memanfaatkan anak itu.
Mereka membuat anak itu kelaparan. Mereka menunggu sampai anak itu mati untuk membeli anak baru dan melanjutkan bisnis mereka. Kadang, mereka menjual anak itu ke gibang.

Kuk Mu Jang Nok Young berkata akan pergi dan melihatnya sendiri. Ia maju ke depan barisan, tapi Yang Myung menahannya, maafkan ketidak sopanan saya, tapi ambil no urut dulu.
Yang Myung : Maaf, tapi saya harus pergi ke dalam lebih dulu.

Jang Nok Young awalnya kesal, tapi ia mendapat penglihatan tentang Yang Myung.

Yang Myung juga memancarkan kekuatan matahari. Joseon memiliki dua matahari..

Yang Myung duduk menunggu giliran, seorang pria tanya kenapa Yang Myung kesini dan Yang Myung bohong, ia berkata kalau kakinya luka karena berburu babi hutan.
Pria itu anggota komplotan dan memberi kode pada pria disisi Su gung. Pria itu berbisik pada Su gung apa yang terjadi.

Yang Myung maju ke depan Su gung. Su Gung mengatakan seperti yang dibisikkan pria di sampingnya. Tapi ia menambahkan, oh..aku bisa melihat cahaya datang darimu, paman. Benar2 cahaya kuning yang indah..atau merah?
Jang Nok Young terkejut, karena anak itu memiliki kemampuan melihat seperti dirinya.

Yang Myung heran, cahaya apa? Apa maksudmu?
Anak itu mengeluh, aku lapar..
Yang Myung heran dan mengamati anak itu. Bibirnya kering dan pecah2, berarti kekurangan cairan.

Pria disamping Su Gung berkata kalau dewi Su Gung sudah mengatakan kalau kakimu luka dan akan sembuh sekitar 4 hari.
Yang Myung : Tubuhnya kurus tapi punya perut. Ada suara di perutku yang berkata kalau rasanya tidak enak karena kurang cairan dan darah?

Pria itu marah, brengsek, apa yang kau katakan?
Yang Myung berdiri, menunjukkan kalau ia tidak sakit. Aku berkata kalau ia kelelahan karena kelaparan.

Yang Myung menunjukkan kalau anak itu sudah dipukuli, ada memar di leher dan lengan. Ada berapa banyak luka lagi yang tidak terlihat?

Yang Myung minta anak itu membuka matanya, anak itu ternyata tidak buta. Ia membuka mata dan Yang Myung menyuapkan kue ke mulutnya. Anak itu langsung memakannya dengan lahap.

Pria itu marah dan mencubit anak itu. Anak itu menangis, aku lapar, aku lapar.
Para pengunjung mulai marah, penipu! Mereka minta uang mereka dikembalikan. Semua menyerbu penipu2 itu.

Yang Myung mengambil kesempatan ini untuk membawa lari anak itu. Yang Myung lari cepat sekali. Anak itu mengeluh, paman kau lari terlalu cepat. Kepalaku pusing.

Yang Myung : Itu karena kau kelaparan. Tunggulah sebentar lagi. Aku akan membawamu ke tabib dan aku bukan paman! haha..

Yang Myung disergap para penjahat tadi. Salah seorang mengambil anak itu dan membawanya pergi. Anak itu menangis, aku tidak mau. Aku tidak mau dipukuli.

Jang Nok Young menghadang pria itu, lepaskan anak itu.
Pria itu : Apa ini?

Lalu pria itu melihat pasukan di belakang Jang Nok Young. Ia ketakutan dan segera menurunkan anak itu lalu lari. Pasukan mengejarnya.

Sementara Yang Myung harus menghadapi preman2 itu. Ini semua karenamu. Hari ini, kami tidak mendapatkan uang sesen-pun. Bahkan sekarang kami tidak bisa kembali kesini untuk mencari uang.
Preman itu mendorong Yang Myung.

Yang Myung marah, ini peringatan terakhirku. Membuatku marah dan kau dalam bahaya besar. Guru pedangku mendapat gelar sarjana militer terbaik kali ini.
Mereka mengejek Yang Myung, jika gurumu adalah sarjana terbaik, maka ayahku adalah Raja. (emang benar.)

Preman itu tertawa, aku kenal Raja, dia tidak berkata punya anak sepertimu!
Ini membuat Yang Myung marah. Ia berdiri dan menghapus darah di sudut bibirnya.

Lalu melumpuhkan orang2 itu satu persatu. Yang Myung ternyata petarung hebat, semua preman yang lebih besar darinya sukses dikalahkannya.

Malamnya, Yang Myung mengenakan baju hanbok bangsawan dan berdiri di atas bukit, Yang Mulia. Pelayan setia anda telah kembali dengan selamat. Tolong ampuni saya karena tidak memberi hormat lebih awal.
Yang Mulia Putra Mahkota, apa kabarmu selama ini?
(Yang Myung ini tampak ceria diluar, tapi menyimpan kesedihan di dalam hatinya.)

Putra Mahkota berdiri memandang langit malam. Kasim Hyung Sun, para dayang dan pengawal berdiri tepat dibelakang Hwon.
PM Hwon jalan ke samping, Kasim dll mengikutinya, persis seperti bayangan. Ini lucu sekali.

PM Hwon menghela nafas, aku tidak akan melarikan diri. Berikan aku ruang.
PM Hwon melihat kelopak bunga jatuh berguguran dan ia ingat saat ia terjatuh bersama Yeon woo.

Hwon bicara sendiri : Kalau kau tahu bahwa aku Putra Mahkota. Kau akan semakin marah. Sudahlah..kita lebih baik tidak bertemu lagi.

PM Hwon melihat ke atas dan melihat payung merah itu melayang di udara.

Yeon Woo mempelajari surat dari Hwon, ia bingung, digambar bulat ditulis kotak. Jika kau menggambarnya akan jadi lingkaran. Tapi jika kau menulisnya, akan jadi kotak. (Matahari, kalau digambar kan bulat, kalau ditulis dalam huruf mandarin, jadinya kotak.)
Yeon Woo masih berpikir, Myo hidup, Yu mati. Kelinci bisa hidup. Ayam jago akan mati.

Pelayan Yeon Woo, Seol masuk sambil membawa teh, Nona ini Seol. Anda tidak bisa tidur lagi, Nona?
Yeon Woo : Seol, "Kelinci bisa hidup. Ayam jago akan mati." Apa kau bisa menjelaskannya?

Seol : Jika ayam jago mati, siapa yang akan membangunkan kita di pagi hari? Anda sebaiknya berhenti dan pergi tidur sekarang. Apa anda ingin kena marah Ayah anda lagi?

P. Yang Myung ada di depan kediaman Yeon Woo. Ia tersenyum melihat kamar Yeon Woo yang masih menyala.

Tiba-tiba Yeon Woo keluar dan membentangkan kain itu di bawah sinar bulan. Yang Myung heran melihatnya.

Yeon Woo mengarahkan kain itu ke segala penjuru, kukira aku bisa melihat huruf tersembunyi di bawah sinar bulan.
Tidak ada tulisan lain. Yeon Woo mengutip perkataan Seol, jika ayam jago mati, siapa yang akan membangunkan kita di pagi hari?

Yeon Woo menyadari sesuatu, pagi...Myo hidup, Yu mati. Lahir di waktu Myo dan mati di waktu Yu?

Lalu ia jongkok dan menulis di tanah, Waktu Myo...jam 5-7 pagi hari, Waktu Yu..jam 5-7 sore. Jika kau menggambarnya, akan berbentuk lingkaran. Tapi jika kau menulisnya, akan jadi kotak. Terbit pada waktu Myo dan terbenam waktu Yu? Matahari.
Yeon Woo ingat saat Hwon tampak kesal, apa kau sekarang mengabaikanku? Aku ini ...Joseon.

Yeon Woo kaget dan jatuh terduduk di tanah. Matahari. Yang Myung heran melihat Yeon Woo.

Sementara PM Hwon berpikir payung merah itu adalah tanda kalau mereka akan bertemu lagi.
Yeon Woo : Apa kau benar-benar Putra Mahkota, lebih baik kita tidak bertemu lagi.


Yang Myung tersenyum : Aku benar2 bahagia melihatmu lagi, Heo Yeon Woo.

Notes :
TMTETS ini sudah kuincar sejak Des lalu dan ternyata ceritanya menarik juga. Aktor2 Korea remaja ini ternyata pintar2 juga, jadi aku pasti betah lihat mereka sampai beberapa ep ke depan.

Agak geli juga melihat Kim So Hyun berpasangan dg Han Ga In. Soalnya Ga In habis pasangan dengan Nam Gil haha..dan So Hyun image-nya muda banget. Tapi Kim So Hyun ini aktor pintar, kita lihat saja.
Faktor lain, Jung Il Woo pastinya :) Ngga sabar menunggu beliau muncul lagi.

Pasangan PM Hwon dan Kasim Hyung Sun adalah favoritku haha mereka lucu sekali.